Thursday, April 3, 2008

Walaupun

Walaupun…

“Jangan pernah mencintaiku, Laela!”
“Aku terlanjur mencintaimu, Krisna.”
Krisna menarik nafas panjang. “Benar, Krisna. Aku mencintaimu,” tegas Laela.
“Tapi Laela..”
“Tak akan ada nafi dalam kisah ini, Krisna”
“Meski kamu tahu aku..”
“Apalagi yang belum kuketahui darimu? Bahwa dirimu impotent? Bahwa kamu pernah menjadi gay?”
Krisna mengangguk membenarkan semua itu. “Aku tahu konsekuensi apa yang harus kutanggung ketika memutuskan untuk memilih mencintai dirimu. Bahkan, mungkin aku rela bila kamu tak hanya mantan pria gay yang impotent. Aku rela kamu siksa dan sakiti bila kamu juga seorang sadomasitik. Aku pun ikhlas bila kamu tak hanya menduakanku dengan wanita tapi juga pria sebagaimana aku tak pernah merasa jijik andaipun kamu juga pengidap bestiality.”
“Kamu gila, Laela”
“Aku tidak gila, Krisna. Aku hanya mencintaimu dengan logika dan hati.”
“Mengapa kamu seolah yakin dengan semua itu?”
“Karena aku memiliki sebuah setia.”
“Meski mungkin saja aku adalah manusia terburuk yang pernah kamu temui?”
“Karena aku setia kurasa sudah cukup untuk menjadi jawab atas semua pertanyaan, Krisna”
“Bagaimana bisa?”
“Setiaku berasal dari hati bukan dari orang lain, Krisna. Aku tak akan pernah peduli dengan apa yang akan terjadi pada diriku lagi akibat semua polahmu. Aku hanya setia karena cinta ini berasal dari diri terdalamku. Energi itulah yang akan selalu membuatku tegar bersamamu.”
“Apalagi yang harus kuperbuat agar kamu membenciku, Laela?”
“Tak ada.Terimalah aku menjadi istrimu, Krisna!”
**
Laela menatap nisan itu. Matanya sembab. Tangis itu masih saja terus berkepanjangan semenjak 10 tahun silam ketika Krisna benar-benar telah meninggalkannya. Laela menaburi kuburan itu dengan kembang sambil sesekali membenarkan kerudungnya.
“Krisna, aku masih seperti kemarin. Laela yang dulu setia kini pun tetap setia. Tak akan ada lelaki seburuk dirimu, Krisna. Tapi keburukan itulah yang membuatmu senantiasa membekas dalam hati, Krisna,” perempuan itu lagi-lagi tak kuasa untuk tidak menguarai air matanya.
”Krisna, aku tahu kamu mendengarku. Aku tak pernah bisa melupakan saat-saat bersamamu. Bahkan aku selalu membawa sebaris kata yang kamu tulis untukku. Hari ini aku yakin kamu pasti ingin lagi mendengarnya. Kubacakan ya Krisna…..” Perempuan itu pun mulai mengeja tiap perkataan dalam kertas itu secara tersendat berpacu dengan airmata yang terus saja diurainya.

Mengatakan kasih:
Padamu
Tak ingin menjadi api yang membakar atau air yang mengguyur.
Hanya ingin menjadi dirimu.
Dalam seribu wujud. Rasa. Tekstur. Gesture. Melekat:
Padamu. Padu.
Hanya itu.

“Krisna, kamu masih bahagia mendengarnya, bukan?” Laela semakin deras air matanya, ”Tapi mengapa aku tak bisa sebahagia dirimu, Krisna?” digunakannya salah satu ujung kerudungnya untuk mengusap air matanya. “Aku ingin bersamamu. Di sini aku sendirian. Benar-benar sendiri. Mereka semua mencibirku bodoh karena telah mencintai manusia semacam dirimu. Bahkan, mereka juga bilang bahwa aku perempuan kerdil yang bisa dijajah oleh lelaki bejat macam dirimu. Aku tak peduli, Krisna. Mereka hanya bisa melihat kemudian bertingkah sok tahu tentang apa yang terbaik. Mereka memberi nasihat, saran, dan tak jarang mereka juga menyodorkan lelaki lain untuk menggantikanmu. Aku tidak bisa, Krisna. Bahkan aku tak ingin menanggalkan baju yang kukenakan saat pertama kali engkau mempertanyakan perasaanku terhadapmu, saat engkau meragukan kesungguhanku. Ya, Krisna. Baju itu masih selalu kusimpan dengan terbaik. Kucuci ke laundry, kuberi minyak baju terwangi, kugantung paling tinggi, dan kupisahkan dari baju-baju yang lain. Kemudian sebulan sekali setiap tanggal 9 aku akan mengenakannya untukmu. Kamu lihat ‘kan aku tak pernah berubah? Masih seperti dulu. Dan hari ini pun kamu melihatku seperti waktu itu, dengan baju yang sama,” Laela menyiramkan air kembang ke atas pusara itu dengan sedikit senyum terulas. “Ah, Krisna aku hampir lupa. Besok Krisna menikah. Dia kini telah dewasa tapi memang tak pernah seganteng kamu. Dia juga baik terhadapku. Bahkan dialah yang selalu mengingatkanku untuk selalu menjengukmu di sini meski orang-orang telah menganggapku sebagai perempuan gila. Krisna, kamu memang tak salah memilihnya sebagai putra. Kamu memang selalu benar, Krisna!”
“Ma, pulang yuk. Sudah sore,” suara Krisna mengajak ibunya pulang.
“Kau dengar itu, Krisna? Dia begitu perhatian terhadapku sama persis kayak kamu. Meski dirimu selalu tak ada saat kuingin, kamu selalu bisa hadir dalam setiap jengahku. Aku merindukanmu, Krisna. Kapan kamu menjemputku?”
“Ma,pulang yuk!” kali ini Krisna mendekati ibunya itu dan membantunya berdiri.
“Sebentar, Krisna. Mama masih ingin bicara dengan papa.,” Laela memberi alasan agar tetap bisa sedikit lama berada di tempat itu. Krisna hanya terdiam. Ia tak berani membantah ibu angkatnya itu. Ia tahu ibunya sangat dalam mencintai ayahnya. Terbukti, hampir tiap hari rutinitas semacam ini selalu terjadi. Kebetulan saja,hari ini dirinya libur sehingga ia pun dapat menemani ibunya. Sebenarnya,Krisna tidaklah terlalu suka dengan adat ibunya itu. Matanya selalu basah saat menyaksikan ibunya membaca sederet kata yang dulu diberikan ayahnya. Ia juga selalu berpikir mengapa ada wanita yang begitu setia terhadap lelaki seperti ayahnya yang ia tahu bagaimana tabiat sebenarnya.
“Krisna, suamiku. Aku harus pulang tapi percayalah besok pasti aku akan kembali. Kembali dengan cerita baru namun tetap dengan sajak dan kesetiaan yang sama. Aku mencintaimu, Krisna.” Laela mencium nisan itu sekali lagi kemudian beranjak pergi. “Mari kita pulang, Krisna!” ajaknya.

No comments: